Krisis global telah memberi imbas yang negatif bagi pertumbuhan perekonomian secara internasional. Imbasnya sangat berpengaruh terhadap perekonomian dunia. Hal itu terlihat dengan berbagai dampak resesi ekonomi dunia. Hampir di setiap negara terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. Banyak tenaga kerja yang dirumahkan dalam rangka efisiensi dan mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Kondisi itulah yang sekarang menghadang semua bangsa-bangsa di dunia.
Kondisi yang sedemikian, ternyata memberi dampak yang buruk bagi perekonomian secara nasional per kapita. Kehidupan per keluarga semakin sulit. Pada sisi lain, biaya hidup yang semakin tinggi juga bagian dari krisis ekonomi global tersebut. Sangat dirasakan dampak negatif krisis global tersebut. Kini, tinggal lagi bagaimana menyikapi situasi dan kondisi perekonomian yang seperti ini. Meratapi nasib sambil menggerutu bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Diperlukan sikap positif dan langkah yang bijak.
Beberapa waktu terakhir menjadi masa pertaruhan bagi perekonomian kita. Pertaruhan karena di tengah upaya pemerintah menggenjot pemulihan ekonomi dari krisis global, dua bom meledak di Mega Kuningan, Jakarta, 17 Juli 2009. Bom itu meledak di salah satu simbol sektor riil ekonomi, industri pariwisata, yakni di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton. Karena itu, banyak yang waswas ledakan bom itu bakal membuyarkan agenda pemulihan ekonomi dan kian memperdalam krisis. Tapi, faktanya, pasar uang kita tidak terlalu terguncang. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dan rupiah hanya terkoreksi tipis beberapa jam seusai bom meledak, tetapi kembali normal pada pekan berikutnya.
Sejumlah analis ekonomi menyebutkan apa yang terjadi dengan bursa dan pasar uang pascaledakan bom tersebut merupakan bukti fundamental ekonomi kita kuat. Selain itu, para pelaku pasar sudah mafhum bahwa bom tersebut diledakkan kelompok teroris yang sudah bisa diidentifikasi aparat. Itulah sebabnya pelaku pasar tidak panik. Mereka tetap membelanjakan dana mereka di pasar uang Indonesia yang imbal hasilnya lebih menjanjikan ketimbang pasar Amerika atau Eropa.
Para pelaku pasar uang dan saham baru panik jika ledakan bom itu terkait dengan gesekan politik di dalam negeri. Itu disebabkan kekerasan yang muncul akibat pergolakan politik bakal melahirkan ketidakpastian. Padahal, kepastian adalah kunci utama kepercayaan pelaku pasar. Karena itu, mengaitkan ledakan bom dengan politik, misalnya dihubungkan dengan pemilihan presiden, di tengah proses investigasi yang masih prematur justru bisa menjadi bumerang bagi pasar uang dalam negeri. Pernyataan itu sama saja dengan mempersilakan investor hengkang dari negeri ini. Maka, alih-alih membuat pernyataan tudingan ke segala arah, energi pemerintah sebaiknya diarahkan untuk menangani dampak lanjutan dari ledakan bom tersebut. Dampak yang paling terasa adalah sektor pariwisata, khusunya perhotelan.
Asosiasi perhotelan mengestimasi pascaledakan bom pendapatan perhotelan bakal merosot 20% untuk waktu enam bulan. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menyebutkan jumlah kunjungan wisatawan asing akan berkurang 1 juta orang dalam kurun satu tahun. Itu pun dengan catatan pemerintah cepat bergerak. Kita tidak boleh terlena dan menganggap enteng ledakan bom hanya karena bursa dan rupiah tidak terpengaruh. Tapi, kita juga tidak boleh paranoid lalu tidak mengedepankan akal sehat sehingga secara membabi buta menyerang lawan politik yang ujung-ujungnya malah memperkeruh suasana.
Pemulihan ekonomi nasional dari dampak krisis keuangan global diyakini akan berjalan lebih cepat. Selain didukung pemulihan secara global, Indonesia pun telah terbukti lebih tahan krisis. Tren penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan ditopang oleh sejumlah faktor, diantaranya adalah permintaan konsumsi domestik yang sangat kuat dan mayoritas dibanding faktor lain. Investasi juga diyakini kembali meningkat. Meski masih lemah, penurunan ekspor juga mulai melambat seiring pemulihan perekonomian dunia. "Tapi itu pun tidak masalah, karena faktor demand domestik masih lebih berperan dibanding yang lain.
Langkah bijak yang dapat ditempuh adalah dengan tetap berperilaku positif yang dapat menumbuhkembangkan iklim perekonomian bangsa. Setidaknya, dalam momentum HUT Proklamasi 1945 setiap tahunnya patut kita hayati dalam hidup bermasyarakat. Setidaknya hal ini akan memberikan pandangan yang baru atas realitas perekonomian nasional yang sedang lesu-lesunya. Kiranya peran serta masyarakat dapat mengembangkan upaya perbaikan perekonomian yang diharapkan. Sebab, krisis global yang ada membuat perekonomian bangsa ini semakin goyah. Krisis yang dirasakan telah memberikan nilai destruktif bagi perbaikan kualitas perekonomian. Motivasi untuk bangkit dari kelesuan perekonomian harus dipupuk secara maksimal.
Kiranya kerjasama bangsa ini akan dapat memberikan spirit tinggi untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Sebab, hanya dengan spirit yang kuat, kita dapat melakukan usaha secara maksimal. Dan dengan maksimalisasi usaha tersebut, akan memberi hasil yang jelas bagi pertumbuhan dan perkembangan, plus perbaikan, roda perekonomian bangsa. Setidaknya kita dapat selalu menumbuhkan segala energi positif di dalam diri agar segala hal yang kita lakukan dapat bersifat konstruktif dan berguna bagi kehidupan bangsa dan engara ini. Hal inilah yang harus diupayakan secara menyeluruh oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia. Bagaimanapun, pemulihan ekonomi kita masih menghadapi tantangan sangat berat dan terjal. Sebagian besar sektor riil kita masih mati suri. Karena itu, pemulihan ekonomi membutuhkan langkah cepat, dengan cara luar biasa, dan dengan kekompakan yang tinggi. Hal inilah yang akan membuat perekonomian Negara kita akan semakin kuat, bahkan dapat masuk daftar terdepan berkembangnya ekonomi negara dalam kancah internasional.







0 komentar